Sebagai bayi yang sudah berumur 240 bulan ke atas, tentunya banyak di antara kita yang sudah mulai melek dengan pengetahuan keuangan. Ada yang mulai investasi saham, obligasi, emas, kripto, dan masih banyak lagi. Terlepas dari apapun yang kita pilih, bahaya yang kita hadapi selalu sama, yaitu risiko kerugian.

Sederhananya, kerugian dapat terjadi jika aset yang dibeli mengalami pengurangan nilai. Misalnya, jika pada awal tahun 2026 yang lalu kalian beli saham BRI, harga saham per lembar nya adalah Rp3.640,00. Saat ini, (19 Juni 2026), harga saham per lembar nya adalah Rp2.930,00 (lihat). Kalian rugi karena membelinya dengan harga mahal tapi sekarang harga nya malah lebih murah (-Rp710,00). Jika beli 1 lot (100 lembar) saja, total kerugian yang kalian dapatkan adalah -Rp71.000,00. Kerugian seperti ini tidak hanya dapat terjadi pada aset berupa saham saja, melainkan di semua aset, termasuk obligasi yang dianggap sebagai risk-free asset.

Apakah risiko itu menandakan bahwa kita ga seharusnya berinvestasi? tentu tidak. Disinilah pentingnya kemampuan manajemen risiko yang baik. Dengan strategi manajemen risiko yang cerdik, kita dapat mengakali potensi risiko ini supaya kita bisa tetap berinvestasi dengan aman (dengan risiko yang lebih terkontrol). Bagaimana caranya? Salah satu caranya yaitu risk reduction (pengurangan risiko). pengurangan risiko dapat dilakukan dengan diversifikasi portofolio investasi, yaitu tidak menaruh seluruh dana ke 1 asset saja, melainkan ke berbagai aset yang beragam (diverse), terutama aset-aset dengan korelasi pergerakan harga yang rendah. Kita akan bahas diversifikasi portofolio investasi lain kali.

Cara lain yang kurang populer, tapi sangat berguna yaitu risk transfer (transfer risiko). Ide nya adalah, jika kita mengidentifikasi risiko kerugian kenapa risiko nya harus ditanggung sendiri? mending oper risiko nya ke pihak lain sehingga jika benar-benar rugi, kerugian tersebut ditanggung oleh pihak lain. Cukup masuk akal? konsep ini sama seperti asuransi ketenagakerjaan, asuransi kendaraan, dan segala jenis asuransi lainnya. Jika kalian merupakan pekerja dengan paparan risiko keselamatan kerja (di Indonesia, semua pekerja masuk ke kategori ini), maka kalian akan diwajibkan memiliki asuransi ketenagakerjaan, setidaknya BPJS Ketenagakerjaan. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi jika terjadi insiden yang membahayakan keselamatan para pekerja, dampak kerugian finansial (seperti pengobatan) nya dapat ditanggung oleh pemberi asuransi. Konsep yang sama juga berlaku pada dunia keuangan. Konsep ini disebut sebagai Hedging (lindung nilai).

Jika untuk menjadi peserta asuransi kita membayar premi asuransi, maka untuk melakukan hedging kita membeli kontrak. Secara sederhana, kontrak ini merupakan semacam surat perjanjian antara 2 pihak untuk membeli suatu aset (misalnya, saham) dengan harga tertentu, terlepas dari harga asli aset nya. Aset yang dijanjikan untuk diperjualbelikan dengan harga tertentu ini disebut sebagai underlying asset, sedangkan kontrak (perjanjian untuk memperdagangkan aset) yang tadi kita bahas disebut sebagai derivative asset (aset derivatif). Disebut sebagai aset derivatif karena harga kontrak ini ditentukan/didasarkan oleh harga aset asli yang diperjualbelikan pada kontrak tersebut, yaitu underlying asset. Jadi, ada 2 aset berbeda, pertama adalah underlying asset (aset yang dijanjikan untuk diperdagangkan dengan harga tertentu) dan derivative asset, berupa kontrak perjanjian. Kedua-duanya dapat diperjual belikan.

Bayangkan skenario berikut, dimana Andi punya emas senilai Rp7.000.000 (7jt). Budi kemudian datang untuk bernegosiasi dengan Andi.

Budi: “katanya bulan depan harga emas bakal turun deh. Gimana kalo gue beli? Lagi ga ada duit sih, jadi gue mau beli bulan depan aja. Gue beli di harga Rp7.200.000 deh bulan depan. Tapi janji jangan jual emas nya ke orang lain, harus jual ke gue. Kalo setuju gue bikin surat perjanjiannya. Beli surat ini, Rp50.000 aja” Andi: “ayok aja gue mah. daripada rugi bulan depan, mending untung Rp150.000 dengan jual ke lu”

Budi pun menulis surat perjanjian dagang emas tersebut dan menjualnya ke Andi. Apa yang terjadi bulan depan? Jika di bulan depan harga emas memang turun, sehingga harga emas Andi menjadi Rp6.200.000, maka Andi selamat. uangnya tidak hilang sama sekali, malah untung karena Andi akan jual emasnya ke Budi di harga yang tetap Rp7.200.000, sehingga keuntungan Andi adalah 7.200.000 (harga jual emas yang dijanjikan sesuai kontrak) Rp7.000.000 (harga emas awal) - 50.000 (harga kontrak) = Rp150.000. Jadi, walaupun bulan depan harga emas turun, Andi malah untung. Budi lah yang harus menanggung kerugian karena terpaksa beli emas dengan harga mahal sesuai kontrak.

Jika memang rugi, kenapa Budi membuat kontrak seperti itu? Jawabannya adalah, karena bisa saja harga emas bulan depan justru naik. Jika harga emas bulan depan naik menjadi Rp7.500.000, maka Budi justru untung. Bayangkan hanya dengan modal 7.200.000 + surat perjanjian yang dia jual seharga Rp50.000, total keuntungan yang didapatkan Budi adalah Rp300.000 + Rp50.000 = Rp.350.000. Bayangkan jika Budi melakukan perjanjian yang sama, menjual kontrak yang sama ke 10 orang, maka total keuntungan yang didapatkan Budi di bulan depan adalah Rp3.500.000. Lalu bagaimana dengan Andi? Walaupun Andi tidak mendapat keuntungan maksimal (+Rp.300.000) karena harus menjual emas nya dengan harga lebih murah, setidaknya dia masih memperoleh keuntungan yang lebih kecil (+Rp150.000) dan terselamatkan dari kekhawatirannya akan penurunan harga emas yang berpotensi merugikannya.

Jadi kontrak pada mekanisme hedging pada dasarnya adalah permainan peluang. Pihak yang berani ambil risiko akan menjual kontrak sedangkan orang yang takut risiko akan membelinya. Tidak ada yang salah, ini hanyalah strategi manajemen risiko yang umum digunakan. Pada Contoh di atas, Andi berhasil mentransfer risiko kerugiannya ke Budi hanya dengan mengeluarkan uang sebesar Rp50.000 untuk membeli kontrak nya. Andi baru saja melakukan hedging.

Aset Derivatif untuk Hedging

Berdasarkan sifatnya, Terdapat 3 jenis aset derivatif (kontrak) yang umum digunakan untuk hedging, yaitu Options (Opsi), Futures (Kontrak Berjangka), dan Forward. Tujuannya sama, sama-sama mengunci harga aset/komoditas pada nilai tertentu, terlepas dari harga aset/komoditas sebenarnya.

Options atau opsi merupakan kontrak yang memberikan seorang pembeli opsi hak (bukan kewajiban) untuk menjual/membeli aset yang telah dijanjikan dengan harga dan tenggat waktu sesuai perjanjian. Misalnya, Andi membeli kontrak opsi ke Budi untuk menjual emas yang dia punya ke Budi 1 bulan lagi seharga 7.000.000 dan harga kontrak opsi Rp50.000. Jika bulan depan harga emas benar-benar turun menjadi Rp6.200.000, maka Andi dapat menggunakan hak-nya (yang diperoleh dari opsi yang telah dibeli) untuk menjual emasnya kepada Budi dengan harga tetap Rp.7.200.00, dan Budi harus bersedia membelinya dengan harga tersebut. Andi pun untung. sebaliknya, jika ternyata bulan depan harga emas justru naik menjadi Rp7.500.000, Andi tidak perlu menjual emasnya ke Budi dengan harga Rp7.200.000 karena dengan kontrak Opsi yang dia punya, andi hanya punya hak untuk menjual, bukan kewajiban untuk menjual. Jadi Andi dapat menjualnya jika dia mau, tapi tidak wajib.

Futures (kontrak berjangka) di sisi lain tidak menawarkan hak, melainkan kewajiban. Skema nya mirip seperti opsi, akan tetapi jika opsi menawarkan hak eksklusif untuk menjual/membeli underlying asset pada harga dan waktu tertentu, maka kontrak berjangka menawarkan kewajiban untuk menjual/membeli underlying asset pada harga dan waktu tertentu. Skema nya sama, tapi dampak nya beda. Opsi menawarkan hak, sedangkan kontrak berjangka memberikan kewajiban.

Selain kedua jenis aset derivatif tadi, terdapat 1 aset lagi, yaitu forward. Pada dasarnya, forward sangat identik dengan futures. Satu-satunya pembeda adalah tempat perdagangannya. Jika futures harus diperdagangkan melalui bursa efek, maka forward diperdagangkan secara langsung antara kedua belah pihak. Tentunya fleksibilitas ini datang dengan berbagai konsekuensi dan risiko, seperti risiko gagal bayar dan tingkat likuiditas nya. Pada contoh negosisasi antara Andi dan Budi di awal tadi, dapat kita simpulkan bahwa Andi melakukan hedging melalui transaksi aset forward dengan Budi. Atau, jika mereka melakukan transaksi melalui bursa efek, artinya mereka memperdagangkan futures (kontrak berjangka).

Berdasarkan tujuannya, terdapat 2 jenis kontrak, baik pada kontrak opsi, futures, ataupun forward. Pertama adalah kontrak call, yang menjanjikan hak/kewajiban untuk membeli aset dengan harga tertentu. Kedua yaitu kontrak put yang menjanjikan hak/kewajiban untuk menjual aset pada harga tertentu. Berikut uraiannya:

  • Opsi call: memberikan pembeli opsi hak (bukan kewajiban) untuk membeli aset pada harga tertentu dan waktu tertentu.
  • Opsi put: memberikan pembeli opsi hak (bukan kewajiban) untuk menjual aset pada harga tertentu dan waktu tertentu.
  • Futures call: memberikan pembeli kontrak berjangka kewajiban untuk membeli aset pada harga tertentu dan waktu tertentu.
  • Futures put: memberikan pembei kontrak berjangka kewajiban untuk menjual aset pada harga tertentu dan waktu tertentu.

Apakah Hedging Memang Berguna?

Meskipun secara teori hedging merupakan konsep yang sangat keren, mungkin timbul pertanyaan, “apakah beneran bisa dipakai untuk manajemen risiko?”. Pada kenyataannya, strategi hedging sangat umum digunakan untuk lindung nilai aset/komoditas, bahkan dilakukan oleh negara sekalipun. Meksiko secara rutin melakukan strategi hedging yang dikenal sebagai Hacienda Hedge, dimana Meksiko membeli opsi put ke bank-bank besar di Wall Street untuk mengunci harga minyak bumi yang akan mereka jual. Dengan strategi ini, ketika harga minyak bumi anjlok, Meksiko tetap dapat menjualnya dengan harga mahal menggunakan hak jual yang mereka peroleh dari opsi yang telah dibeli. Singkatnya, mereka jual mahal ketika harga minyak bumi dunia saat itu sedang jatuh. Strategi ini pun sukses besar. Setidaknya selama periode 2001 - 2007, Meksiko menghasilkan keuntungan sebesar 14,1 miliar USD dan hanya perlu membayar 11,7 m iliar USD untuk membeli kontrak opsi tersebut. Artinya, Meksiko mendapat keuntungan bersih sebesar 2,4 miliar USD dengan cara hedging komoditas minyak bumi mereka. Tidak hanya Meksiko, maskapai penerbangan seperti Singapore Airlines pun melakukan hal serupa supaya dapat tetap membeli minyak bumi dengan harga yang relatif murah ketika harga minyak bumi melonjak naik.


Hedging tidak memastikan kita akan selalu untung. Hedging sangat mungkin membuat kita tetap rugi, akan tetapi dengan kerugian yang lebih kecil. Hedging sangat berguna ketika kita sudah mengidentifikasi risiko, dan ingin melakukan lindung nilai (Hedging) terhadap aset/komoditas yang kita miliki. Oleh karena itu, dalam manajemen risiko, penting untuk menganalisis potensi kerugian dan menentukan strategi mitigasi risiko yang memungkinkan.