Pada saat berada di bangku SMA, saya merupakan anggota aktif klub debat sekolah sejak kelas 10. Sejujurnya, saya bergabung ke klub debat sekolah karena beberapa alasan: 1) saya ingin belajar debat formal dengan benar; 2) pada waktu itu, saya sangat takut berbicara di depan umum. jadi, saya ikut klub debat untuk menghadapi ketakutan ini; 3) saya termakan pujian guru pada saat masih di Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang memuji bahwa saya siswa yang kritis hanya karna pernah mengkoreksi hasil penilaian tugas yang beliau berikan.

Pada saat pertemuan pertama klub debat, kegiatan kami diisi dengan perkenalan singkat antar anggota, pemaparan singkat berbagai jenis kompetisi debat, serta sesi simulasi debat singkat. Di akhir kegiatan, kami (para anggota baru klub) diberikan kesempatan untuk bertanya apapun mengenai debat, klubnya, kompetisinya atau apapun yang sehubungan dengan itu. Dengan polosnya saya bertanya “Kak, apakah mosi debat itu selalu tentang masalah sosial? apa nggak ada debat sains?”. Saya menanyakan hal tersebut bukan tanpa alasan. Alasan pertama adalah karena saya sendiri merasa lebih menguasai domain sains ketimbang isu-isu sosial, hukum, dan sebagainya. Bukankah harusnya kita fokus ‘berperang’ pada peperangan yang bisa kita menangkan? Alasan kedua nya adalah karena selama pemaparan sebelumnya, mosi debat yang di-mention hanya berputar pada isu-isu sosial, politik, hukum, pendidikan, dan sejenisnya. Sebagai seorang siswa yang “sains banget”, wajar jika saya bertanya demikian.

Kakak-kakak senior yang memandu kegiatan klub kami sempat sedikit tertawa, kemudian menjelaskan dengan singkat bahwa debat sains (dalam arti debat yang sesungguhnya) sepertinya tidak ada, karena memang sains sulit untuk diperdebatkan. Pada saat itu saya tidak mengerti, dan hanya meng-iya-kan saja jawaban yang diberikan.

Setelah sekian banyak kompetisi debat yang saya ikuti, setelah sekian banyak perdebatan yang saya tonton, saya cukup paham kenapa tidak ada debat sains. Debat pada dasarnya hanyalah permainan kata-kata. Orang-orang bilang, adu mulut atau bersilat lidah. Saya rasa itu ada benarnya, karena pada debat yang sebenarnya, entah itu kompetisi debat anak SMA atau bahkan debat presiden, topik yang diperdebatkan adalah topik yang “abu-abu”, tidak ada kebenaran mutlak dan tidak ada kesalahan mutlak. Anda bisa menang debat pada topik-topik ini selama anda cukup lihai merangkai kata dan bertarung secara psikologis. Dan yang paling penting, tidak ada kebenaran mutlak. Kenapa selalu seperti itu? Karena harus seperti itu.

Mari kita ambil contoh pada kompetisi debat formal yang diadakan secara global, baik itu debat anak SMA yang diadakan kampus atau bahkan kompetisi debat nasional. Sistemnya adalah, pada setiap kompetisi debat akan selalu ada tim Pro, yang setuju dengan mosi debat, dan Tim Kontra, yang tidak setuju dengan mosi debat. Siapa yang berada di tim Pro dan Kontra biasanya ditentukan secara acak. Seandainya mosi debat berputar pada masalah-masalah yang punya nilai kebenaran mutlak, seperti Sains, pastinya pemenang dari perdebatan tersebut dapat ditentukan sejak awal, bahkan sebelum debat dimulai. Sebagai contoh, misalkan mosi debat yang diberikan adalah “1+1=2”, maka jelas tim Pro yang akan menang, bahkan sebelum debat dimulai. Bagi kalian yang berasal dari jurusan Matematika, mungkin ada yang mikir “Ta-tapikan 1+1 ga selalu sama dengan 2?”. Kalian benar. Walaupun begitu, tetap saja pemenangnya hampir dapat dipastikan tanpa perlu terjadi perdebatan, cukup ikuti alur berpikir matematika yang benar. Dan tidak ada keraguan dalam matematika. Akan sangat jauh berbeda jika mosi debat adalah membahas tentang kebijakan mentri, kritik penetapan hukum, regulasi pemerintah, dan sebagainya. Pada topik-topik seperti ini, terdapat area abu-abu, yang jika diperdebatkan dengan rangkaian kata yang tepat, siapapun bisa menang. Yang paling jago merangkai kata lah yang menang. Bahkan pengacara yang membela “orang jahat” pun dapat menang di pengadilan dengan rangkaian kata-kata yang tepat. Bahkan, Cicero dapat menjadi Konsul Roma (orang jabatan tertinggi di Roma) murni dengan kemampuannya berbicara dan bersilat lidah, mengalahkan banyak pesaing luar biasa yang memiliki kekuasaan, kekuatan, dan kekayaan. Jadi benar, pada dasarnya Debat hanyalah agenda bersilat lidah, tak lebih dan tak kurang.

Sekitar 6 bulan yang lalu, saya tengah mengikuti perkuliahan S2, dimana pada saat itu dosen saya menjelaskan sesuatu yang menurut saya (dan kemudian diikuti oleh teman-teman sekelas) merupakan hal yang salah. 1 jam terakhir kelas tersebut dihabiskan untuk membahas pertentangan ini. Setelah 1 jam, akhirnya beliau menyadari bahwa apa yang saya jelaskan memang benar. Dan tidak ada yang salah dengan kejadian itu. Kami menikmati kelas yang penuh dengan diskusi “panas” seperti itu. Suasana kelas seperti itu cenderung lebih memikat. Dosen kami juga terlihat senang karena mahasiswa yang beliau ajar ternyata belajar dengan baik dan bahkan bisa mengkoreksi beliau ketika beliau salah.

Akan tetapi, beberapa minggu kemudian, beliau memberitahukan kepada dosen-dosen lain bahwa kami dan beliau sempat melakukan perdebatan panjang mengenai materi kuliah di kelas sebelumnya. Sejenak saya berpikir, “Apakah hari itu benar-benar terjadi perdebatan?”. Menurut saya, apa yang terjadi saat itu adalah diskusi, bukan debat. Diskusi bertujuan untuk mencari kesepahaman, mencari kebenaran. Sebaliknya, debat tidak mencari kebenaran. Debat mencari kemenangan, bahkan walaupun anda salah. Ini adalah 2 pendekatan yang sangat berbeda. Saat anda berkomunikasi dengan tujuan untuk mencari kebenaran, apa yang anda lakukan adalah membuka pikiran dan berbagi untuk menemukan kebenaran. Sebaliknya saat anda berkomunikasi untuk mencari kemenangan, yang anda lakukan adalah mempertahankan pendapat anda bagaimanapun caranya, bahkan saat anda tau bahwa anda salah. 2 pendekatan ini membawa kita ke pola interaksi komunikasi yang sangat berbeda. Oleh karena itu, apa yang terjadi di kelas pada saat itu menurut saya merupakan diskusi, bukan perdebatan karena disana kami berkomunikasi untuk mencari kesepahaman, kebenaran dan jawaban, bukan mencari kemenangan, bukan mencari argumen siapa yang menang.

Jadi, menurut saya, setidaknya ada 2 cara memandang perbedaan antara debat dan diskusi, pertama dari tujuannya dan kedua dari topiknya. Debat bertujuan untuk memperoleh kemenangan dalam bersilat lidah, sebaliknya diskusi bertujuan untuk memperoleh solusi, jawaban, atau kebenaran. Topik debat selalu merupakan topik yang memiliki area “abu-abu” yang bisa diperdebatkan. Sedangkan diskusi biasanya terjadi di forum-forum keilmuan, dimana topik yang biasanya dibahas adalah topik-topik yang memiliki nilai kebenaran.